Selasa, 30 Desember 2008

SeBuaH awaL

sebuah awal,,,

dia tak pernah menyangka,,

juga tak pernah mengharap,,,

dia mengira ini adalah sesuatu yang biasa,,,

standar,,

lazim,,

dia hanya ingin semua ini mengalir,,,

seperti air,,

seperti desau angin,,

seperti riak-riak kecil ombak,,

dia tak pernah menyangka,,

dia juga tak berani mengharap,,

sampai suatu ketika,,

sampai suatu ketika,,

dengan tanpa sengaja,,,

terhembus ke dalam dirinya,,

sesuatu yang halus,,

sesuatu yang menurutku suci,,

sesuatu yang menurutku kita sebagai manusia tak bisa mengelaknya jika sesuatu itu telah merasuk ke seluruh nadi,,,

ke aliran darah,,,

mengalir seperti air,,

berhembus seperti angin,,

berlari seperti riak-riak kecil ombak,,

sesuatu itu justru tak pernah dimintanya,,,

tak pernah diharapkannya,,

sesuatu itu selalu diabaikannya,,

karena pada saat itu dia masih mengharapkan keajaiban yang lain,,

dia masih memiliki mimpi-mimpi indah yang lain,,,

hingga pada suatu ketika,,,

akibat rangkaian melodi indah yang datang kepadanya,,

secara pasti,,

setiap hari,,

setiap jam,,,

setiap menit,,,

setiap detik,,

hingga dia merasa,,

sesuatu yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya,,

sesuatu yang belum pernah dia temukan sebelumnya,,

sesuatu yang belum pernah dia impikan sebelumnya,,

membuat dia berani menemukan mimpinya yang lain,,

membuat dia menemukan asa yang lain,,

yang menurutku memang jauh lebih baik,,

dia mulai melayang,,

dia terlihat bahagia,,

segalanya membuatnya merasa hebat,,

merasa memiliki apa yang selama ini dia impikan,,

hingga dia berhenti bermimpi,,

berhenti mencari apa yang selama ini dia cari,,

karena merasa dia telah mendapatkan apa yang menjadi asa nya selama ini,,,

sampai pada masa,,

air berhenti mengalir,,,

angin berhenti berhembus,,

riak-riak kecil ombak tak lagi berlari,,,

dia merasa sakit,,

dia meracau,,

dia kehilangan asa,,

aku pun ikut putus asa,,

berempati menyaksikannya,,,

aaaaaaahhh,,,

apa dayaku,,

aku hanyalah seorang penonton yang sedang melihatnya bersandiwara,,,

kadang aku melihatnya sangat hidup,,,

tetapi sekarang aku melihatnya seperti mati,,

kehilangan kata-kata,,,

sel-sel dalam tubuhnya seolah-olah berhenti bekerja,,

tak ada metabolisme di dalamnya,,,

seandainya aku bisa membantunya,,,

seandainya ini bukan sandiwara,,

aaaaah seandainya saja,,,

aku bisa membantunya,,,

pasa sebuah awal,,,

agar segera menghentikan sandiwara yang dia mainkan,,

agar dia segera kembali ke dunia nyata,,,

kembalilah,,,

pulanglah,,,

selesaikanlah sandiwara ini secepatnya,,,

aku sudah muak melihatnya,,,

hiduplah,,

kembalikan hidupmu seperti sedia kala,,,

penuh asa,,,

penuh cita,,,

dan ingatkan aku,,

agar aku bisa mengingatkanmu,,

hingga kau tak perlu lagi memainkan sandiwara ini,,,

JikA aKu menjadi,,,

di sudut terpencil bumi,,

tertatih ia menata hari,,

merasuk celah-celah kerikil,,

membelah angkuhnya sang batu,,,

menahan perih kala perut meminta nasi,,

ringkih tubuhnya tak ia hiraukan,,

menggeliat ia mendaki,,,

pelan,,

tapi pasti,,

rapuhnya dinding-dinding kamar,,

lusuhnya bahan yang melekat di badan,,

entah,,

itu layak disebut sebuah tempat bernaung atau tidak,,

yang penting aku masih bisa berlindung katanya,,

tidur hanya beralaskan tikar,,

makan nasi pun menjadi suatu hadiah buatnya,,

yang penting aku masih bisa menghidupi keluargaku,,

yang penting anak-anakku tidak kelaparan,,,

walaupun mungkin tak ada gizi sama sekali di dalamnya,,

ia tak pernah mengeluh,,

ia tak menangis,,

ia tak marah,,,

ia masih bisa tersenyum,,

masih bisa mensyukuri apa yang telah di raihnya hari itu,,,

berlari,,,

menggeliat aku mendaki,,,

bisu seperti batu,,

keras menghujam hati,,

aku trenyuh,,,

lidahku kelu,,

mataku pedih menahan butiran air mata,,

tak sanggup aku melihat pemandangan itu,,,

kegigihannya,,

semangatnya,,

kesetiaannya,,

pengorbanannya,,

ketulusannya,,

semuanya,,,

ia mengajarkan begitu banyak arti hidup,,

ia mampu menata harinya,,

mampu melewati segala kesulitannya,,

aaaaahhh,,,

ia juga masih bersyukur atas apa yang diraihnya,,,

Kamis, 18 Desember 2008

untitled

dahulu,,,

sebuah pagi,,,

menjadi anugerah yang selalu ia nanti,,,

semerbak harum mentari,,

semerdu kicau kenari,,

sehangat embun pagi,,,

lega ketika menatapnya,,

manis senyumnya menghampiri,,,

hingga tak seorang pun kan tega menyakiti,,

mengapa tidak kau katakan saja sejak dulu,,

hingga ia tak harus mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang sempat koyak,,

serpihan-serpihan hati itu sempat tercecer,,

membuat ia gila,,

membuat ia buta,,,

aaarrrggghhh,,,

ternyata dia tega,,

ternyata engkau tega,,,

kukira ia suci,,

berhati seperti malaikat,,

nyatanya sama saja,,

jengah ia melihatnya,,

mengapa tidak kau lepaskan saja,,

hentikan genggamanmu,,,

agar ia bisa berlari,,,

berteriak,,

melepaskan penat yang menyesakkan dada,,

menghilangkan semua amarah yang ia redam,,

ia ingin berteriak,,,

ia ingin menangis,,

ia ingin berlari,,

lelah hatiku melihat kegalauannya,,

tapi apa peduliku,,,

aku juga lelah,,

lelah menunggu,,

Rabu, 17 Desember 2008

iLaLaNg,,,

kulihat ilalang itu dari jendela,,
mudah goyah,,,
lemah,,,

kulihat sekali lagi,,
ia tersenyum padaku,,
jangan menyerah katanya,,
percayalah,,
dia pasti akan kembali,,
mengejarmu,,
menemuimu,,
kembali membuatmu bergairah,,,

aaaahh,,
apakah aku salah dengar,,
ia berkata begitu lantang kepadaku,,
aaahhh,,
mungkin aku hanya mimpi,,

bangunlah nak,,
bangun dari mimpimu itu,,
dia tak bisa kau raih,,
atau lebih tepatnya dia belum bisa kau raih,,
tapi,,,
aku masih mengharapkannya,,,
aku masih menginginkannya,,
sampai saat ini yang kuinginkan hanya dia ilalang,,,

bisakah kau menyampaikan suatu pesan kepadanya,,,
katakanlah kepadanya,,,

nanar,,,
kosong,,,

tiba ketika suatu sore di depan ilalang yang tadi berkata kepadaku,,,
dia datang mengatakan sesuatu yang kutunggu,,
memberikan segenggam asa,,
menyuruhku agar segera mengecap rasanya,,,
dan berkata,,,
sungguh ini bukan mimpi,,,
ini sungguh,,,
aku benar-benar nyata dihadapanmu,,,
lihatlah ilalang itu,,,

aku melihat kalender di dinding kamarku,,,
apakah aku telah berjalan melewati sebuah lorong waktu,,,
tidak,,,
benar-benar tidak,,
aku masih disini,,
aku masih berada pada masa yang sama,,,


ilalang itu kembali tersenyum dan terangguk dengan lembut,,,
datang kepadaku,,
dengan sungguh,,,

dan berkata,,,
aku telah menyampaikan kepadanya,,
dan dia juga sebenarnya telah lama menunggumu,,,

aaaaahhh,,,
mengapa tidak kau katakan saja segera,,,
agar kau tak cemas dan bimbang,,,
hingga harus bertanya kepadaku,,,

ilalang,,,